Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada ucapan dan seremonial semata. Lebih dari itu, Hari Ibu adalah momentum refleksi untuk menyadari bahwa di balik setiap pencapaian anak, terdapat doa dan pengorbanan seorang ibu yang sering kali luput dari perhatian.
Saya, Rizqi Almaajid, dapat berdiri pada posisi saat ini meraih predikat Mahasiswa terbaik Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 yang wisuda pada tanggal 6 September 2025 bukanlah semata hasil kerja keras pribadi. Prestasi ini lahir dari rangkaian doa yang tidak pernah putus, ketulusan kasih sayang, serta pengorbanan seorang ibu yang senantiasa hadir dalam setiap fase kehidupan saya.
Sejak awal pendidikan, ibu menjadi madrasah pertama yang menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengejar angka dan gelar, melainkan tentang membentuk karakter dan akhlak. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam perjalanan akademik saya.
Dalam realitas kehidupan mahasiswa, tantangan akademik dan tekanan mental sering kali menjadi penghalang. Namun, keyakinan dan doa ibu selalu menjadi sumber kekuatan. Ketika rasa lelah dan putus asa datang, kehadiran doa seorang ibu menjadi peneguh langkah untuk tetap bertahan dan berjuang.
Prestasi akademik sejatinya tidak boleh berhenti pada kebanggaan personal. Ia harus menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas. Pesan ibu yang paling membekas adalah bahwa ilmu harus diamalkan dan keberhasilan sejati terletak pada seberapa besar kontribusi yang dapat diberikan kepada sesama.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, saya ingin menegaskan bahwa setiap capaian yang saya raih adalah persembahan untuk ibu. Semoga Allah SWT membalas setiap pengorbanan dan doanya dengan kesehatan, kebahagiaan, serta kemuliaan di dunia dan akhirat.
Hari Ibu menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun langkah anak melangkah, selalu ada doa seorang ibu yang setia mengiringi dari belakang.
Oleh: Rizqi Almaajid











