Menu

Mode Gelap
Grebek Sarang Narkoba di Labura, Polisi Bongkar Lokasi Diduga Tempat Transaksi dan Konsumsi Narkotika Sambut Audiensi DPC PJS Labuhanbatu, Kejari Siap Bangun Sinergi Dua Pelaku Residivis Spesialis Modus Ganjal ATM di Medan Ditembak Polisi Bentrok Antargeng Motor di Medan, Polrestabes Sergap 6 Pelaku Pengeroyokan Hilangnya Nyawa Korban di Patumbak Kapolrestabes Medan Arahkan Personel Tetap Humanis dalam Pengamanan Aksi KBMN di DPRD Sumut Pimwil Bulog Sumut Budi Cahyanto Tinjau Pasar Sukaramai, Pastikan Minyakita dan Beras SPHP Tersedia serta Dijual Sesuai Ketentuan

Akademik

Sosialisasi Empat Pilar MPR: K.H. Muhammad Nuh Soroti Kontinuitas Sejarah Pesantren Sejak Pra-Kemerdekaan

Avatar photobadge-check


					Sosialisasi Empat Pilar MPR: K.H. Muhammad Nuh Soroti Kontinuitas Sejarah Pesantren Sejak Pra-Kemerdekaan Perbesar

LANGKAT – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, K.H. Muhammad Nuh, melanjutkan rangkaian Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan mengunjungi Pesantren Aluswah di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu, 13 Desember 2025.

Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti dengan khidmat oleh para ustadz, pengasuh pesantren, dan tokoh agama setempat.

Dalam paparannya, K.H. Muhammad Nuh tidak hanya menyampaikan makna mendalam Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Lebih substansial, ia menempatkan pesantren dalam narasi sejarah dan kontribusi kebangsaan yang utama.

Beliau menegaskan bahwa pesantren bukanlah institusi baru, melainkan pilar peradaban yang telah mengakar jauh sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu, perannya harus terus diperkuat sebagai solusi kongkret di tengah masyarakat.

“Pesantren Aluswah dan ribuan pesantren lain di Nusantara adalah saksi hidup perjalanan bangsa. Mereka telah berdiri, mengajar, dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa ini sejak era kolonial. Ini membuktikan ketangguhan dan relevansi pesantren sebagai laboratorium kebangsaan dan keumatan,” ujar K.H. Muhammad Nuh.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan analisis mengenai empat alasan strategis mengapa institusi pesantren yang memiliki sejarah panjang ini harus menjadi garda terdepan solusi masyarakat:

  1. Kontinuitas Sejarah dan Kredibilitas Moral:
    Sebagai institusi yang berusia ratusan tahun, pesantren telah membangun kepercayaan (trust) yang tak tergoyahkan di hati masyarakat. Kredibilitas ini yang membuat pesantren menjadi mediator dan problem solver yang efektif dalam menyelesaikan persoalan sosial, mulai dari konflik kecil hingga pendampingan pascabencana.

  2. Integrator Nilai Agama dan Kebangsaan:
    Pesantren telah lama menjadi tempat di mana nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin berpadu secara organik dengan nilai-nilai kebangsaan seperti gotong royong, hormat pada pemimpin, dan cinta tanah air. Integrasi ini menghasilkan solusi yang tidak sekuler, tetapi juga tidak eksklusif; melainkan inklusif dan membumi.

  3. Pusat Pendidikan Holistik dan Karakter:
    Sejak dulu, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga mengajarkan kehidupan. Dari sini lahir lulusan yang tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga memiliki akhlak, kemandirian, ketrampilan, dan kepedulian sosial—profil yang sangat dibutuhkan untuk menjadi solusi dalam masyarakat.

  4. Benteng Ketahanan Sosial dan Budaya:
    Dalam menghadapi gempuran modernisasi dan krisis identitas, pesantren berperan sebagai penjaga kearifan lokal, bahasa, dan tradisi yang positif. Dengan menjadi benteng budaya, pesantren mencegah disorientasi masyarakat dan menawarkan solusi berbasis identitas yang kuat.

“Oleh karena itu, Empat Pilar yang kita sosialisasikan hari ini bukanlah sesuatu yang asing bagi pesantren. Nilai-nilainya telah hidup dan dipraktikkan di sini. Pesantren adalah NKRI dalam bentuk yang paling kultural, yang mengamalkan Pancasila dalam setiap interaksi santri dan kiai. Tugas kita adalah mengoptimalkan peran strategis ini agar pesantren semakin percaya diri tampil sebagai problem solver bagi segala persoalan umat dan bangsa,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disambut hangat oleh para peserta. Ustadz Abdul Hamid (65), salah seorang sesepuh pesantren, mengapresiasi. “Pak K.H. Nuh menyentuh akar sejarah kita. Pesantren memang sudah ada sebelum negara ini ada. Ini pengingat bahwa kontribusi kita untuk bangsa ini adalah sebuah keniscayaan, bukan sekadar pelengkap. Kami siap mengemban amanah ini,” ujarnya.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemaslahatan bangsa. Sosialisasi ini semakin menegaskan bahwa pesantren, dengan landasan sejarahnya yang panjang, bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek aktif dan solutif yang terus dibutuhkan untuk menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan di masa kini dan mendatang.(Red/JI)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pimwil Bulog Sumut Budi Cahyanto Tinjau Pasar Sukaramai, Pastikan Minyakita dan Beras SPHP Tersedia serta Dijual Sesuai Ketentuan

23 Juni 2026 - 02:37 WIB

Pimwil Bulog Sumut Budi Cahyanto Tinjau Pasar Sukaramai, Pastikan Minyakita dan Beras SPHP Tersedia serta Dijual Sesuai Ketentuan

Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

22 Juni 2026 - 02:50 WIB

Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

Delegasi IMT-GT Bersama KLH RI Kunjungi PT SDLi,  Perkuat Kerjasama Pengolahan Limbah Dan Ekonomi Sirkular

19 Juni 2026 - 11:29 WIB

Delegasi IMT-GT Bersama KLH RI Kunjungi PT SDLi,  Perkuat Kerjasama Pengolahan Limbah Dan Ekonomi Sirkular

TK Insan Bijak Islam Gelar Wisuda dan Pentas Seni T.A. 2025/2026 di Gedung RKD Bantuan Kemendikdasmen RI & PERSIS

12 Juni 2026 - 07:02 WIB

TK Insan Bijak Islam Gelar Wisuda dan Pentas Seni T.A. 2025/2026 di Gedung RKD Bantuan Kemendikdasmen RI & PERSIS

Pelatihan Bersama Antara Prajurit TNI AU Dengan Personel US Air Force

25 Mei 2026 - 15:26 WIB

Pelatihan Bersama Antara Prajurit TNI AU Dengan Personel US Air Force
Trending di Nasional