Aceh Tamiang, 12 Desember 2025 –
Kegelapan yang menyelimuti Kampung Sriwijaya pasca-bencana akhirnya sedikit terbelah. Di tengah suasana duka yang masih pekat, kedatangan rombongan Laznas Syarikat Islam kembali menghadirkan setitik harapan. Warga menyambut dengan linangan air mata ketika bantuan berupa 7.800 liter air bersih, makanan siap santap, serta lampu tenaga surya (solar cell) tiba dan langsung dibagikan kepada masyarakat yang telah berminggu-minggu terisolasi dalam kondisi serba kekurangan.
Bantuan ini merupakan kolaborasi antara Laznas Syarikat Islam, Laznas Syarikat Islam PW Sumatera Utara, Indonesian Gas Society (IGS), PGIC Peduli, Amanah Zakat, serta sosok ulama asal Gaza, Palestina, Tuan Guru Syech Ismail Omar Husein Abujudeh. Kehadiran nama terakhir itulah yang membuat warga tertegun, haru, dan tak sedikit yang meneteskan air mata. Di tengah kondisi Gaza yang luluh lantak oleh serangan Israel, ketika setiap harinya masyarakat Palestina berjuang mempertahankan hidup, Syech Ismail tetap menyisihkan rezekinya untuk membantu saudara seiman di Aceh yang tengah dirundung bencana.
Bantuan yang Jadi Nyawa: Air Bersih, Makanan, dan Cahaya
Kampung Sriwijaya mengalami kerusakan parah akibat banjir besar yang menerjang dua pekan lalu. Aliran air menghancurkan rumah, memutus akses, merusak fasilitas umum, serta mengkontaminasi sumber air sehingga masyarakat kesulitan memperoleh kebutuhan paling mendasar: air bersih. Ketika truk pengangkut air bantuan berhenti di tengah kampung, warga bergegas membawa jeriken, ember, dan wadah apa pun yang mereka miliki.
“Alhamdulillah, air ini seperti nikmat langit setelah rumah kami hanyut dan anak-anak menangis kelaparan. Tapi yang bikin hati ini pilu sekaligus bangga, saudara dari Gaza yang sedang berperang demi hidupnya, masih ingat kami di sini. Mereka bom di sana, kita banjir di sini, tapi ukhuwah kita tak terpisah,” ungkap Ibu Siti (45), warga Kampung Sriwijaya, sembari menyeka air mata. Di bawah cahaya lampu solar cell yang baru dipasang oleh tim relawan, ia bercerita bahwa selama hampir dua minggu, gang-gang di kampungnya gelap gulita dan membuat warga diliputi ketakutan, terutama anak-anak dan lansia.
Selain air bersih, bantuan berupa makanan ringan dan sarden kaleng menjadi pengisi perut bagi keluarga yang sudah lama kekurangan asupan bergizi. Anak-anak terlihat begitu antusias menerima makanan tersebut, sementara sebagian orang tua tak henti mengucap syukur.
Salah satu warga lainnya, Bapak Rahman (52), mengungkapkan betapa berartinya pemasangan lampu solar cell itu bagi keamanan kampung. “Lampu ini menyinari gang kami yang gelap dua pekan ini. Tapi cahaya sebenarnya dari hati Syech Ismail. Dia di tengah peperangan, tapi mikirin kita yang miskin di Aceh. Ini pelajaran besar, musibah di mana pun, kita satu umat,” ucapnya dengan suara parau menahan haru.
Solidaritas Lintas Benua yang Menghangatkan Luka
Ketua Tim Laznas Syarikat Islam yang memimpin distribusi bantuan menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk hadir pada titik-titik terdampak bencana, terlepas dari jarak maupun kerumitan medan. Namun, pihaknya menegaskan bahwa aksi kali ini memiliki makna emosional yang lebih dalam karena melibatkan pribadi dari Gaza yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran agresi militer.
“Ketika kami menerima amanah dari Tuan Guru Syech Ismail untuk disalurkan ke Aceh Tamiang, kami semua terdiam. Di saat beliau dalam ancaman setiap hari, beliau justru memikirkan saudara kita yang tertimpa musibah di Indonesia. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi bukti nyata bahwa empati tidak mengenal batas geografis,” ujar salah satu perwakilan relawan.
Menurutnya, solidaritas yang mengalir dari Gaza ke Aceh Tamiang menjadi pengingat bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang mampu menembus dinding-dinding perbedaan. Di tengah perang dan bencana, nilai kepedulian tetap menjadi cahaya yang menguatkan banyak jiwa.
Respon Emosional Warga: Dari Duka Menuju Harapan
Sejak bencana terjadi, sebagian besar warga Kampung Sriwijaya hidup dalam kondisi memprihatinkan. Banyak yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan identitas diri karena dokumen-dokumen penting ikut hanyut. Bantuan dari Laznas Syarikat Islam dan para dermawan menjadi salah satu yang paling ditunggu karena langsung menyasar kebutuhan mendesak.
Hadirnya cahaya solar cell di setiap gang kecil bukan hanya memberi penerangan, tetapi juga menghapus sedikit rasa takut yang selama ini menyelimuti malam-malam warga. Anak-anak mulai berani bermain di sekitar rumah, para ibu tidak lagi memasak dalam gelap, dan para bapak dapat berjaga dengan lebih aman.
“Malam pertama lampu ini menyala, anak-anak saya langsung keluar rumah sambil berteriak senang. Mereka bilang seperti malam hari sebelum banjir, terang dan tidak menakutkan. Saya menangis melihatnya, karena ternyata hal sesederhana cahaya bisa menghidupkan harapan,” tutur seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya.
Menguatkan Jalinan Ukhuwah Antarbangsa
Bagi banyak warga, kabar bahwa bantuan datang dari seorang ulama Palestina memberi suntikan moral yang luar biasa. Di tengah rasa kehilangan materi, mereka justru merasakan kekayaan emosional berupa kepedulian dari saudara jauh yang kehidupannya jauh lebih berat.
Relawan menuturkan bahwa pesan dari Tuan Guru Syech Ismail untuk warga Aceh sangat sederhana namun menyentuh: “Tetaplah kuat, karena setiap ujian menyimpan rahmat. Kami di Gaza mendoakan kalian, sebagaimana kalian selalu mendoakan kami.”
Kalimat itu dibacakan oleh relawan pada momen penyerahan bantuan dan membuat sebagian warga meneteskan air mata. Ada yang mengangkat tangan berdoa, ada pula yang memeluk sesama warga, merasakan ikatan persaudaraan yang semakin kuat.
Kemanusiaan yang Tak Pernah Padam
Misi kemanusiaan Laznas Syarikat Islam kali ini tidak hanya berwujud bantuan fisik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dalam situasi tersulit sekalipun, manusia masih dapat berbagi cahaya. Kolaborasi antara lembaga amil zakat, organisasi sosial, komunitas industri energi, dan seorang ulama Gaza menjadi bukti bahwa solidaritas bukanlah retorika, melainkan tindakan nyata yang menyentuh kehidupan orang-orang yang membutuhkan.
Di Kampung Sriwijaya, cahaya lampu solar cell kini memantul pada genangan air dan dinding-dinding rumah yang tersisa. Namun di balik cahaya itu, ada harapan baru yang tumbuh—bahwa mereka tidak sendirian, bahwa dunia masih memikirkan mereka, dan bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya.
Di balik derita perang dan bencana, kemanusiaan tetap menjadi cahaya yang tak pernah padam.











