Menu

Mode Gelap
GEGER! Geuchik di Aceh Utara Blokir WA Wartawan Saat Tanya Dana Desa, Tuding Gadungan Padahal Pernah Telponan Kompol Rafli: 100 Hari, Sat Narkoba Polrestabes Medan Ungkap 156 Kg Sabu; Bukber Jadi Momentum Apresiasi dan Santunan Anak Yatim Satresnarkoba Polres Batu Bara Amankan Pengedar Sabu di Talawi, Sita Barang Bukti 302 Gram Respons Cepat Aduan Warga, Polsek Kampung Rakyat Grebek Sarang Narkoba di Perlabian Dalam Safari Ramadhan dan Monev Kanwil Ditjenpas Sumut: Penguatan Pembinaan dan Pengamanan Selama Bulan Suci Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk Tambang Emas Ilegal di Mandailing Natal, Sempat Terjadi Intervensi

Lifestyle

Penyebab Terjadinya Asfiksia Neonatorum pada Bayi yang Baru Lahir

badge-check


					Penyebab Terjadinya Asfiksia Neonatorum pada Bayi yang Baru Lahir Perbesar

Pasokan oksigen yang tidak mencukupi ke tubuh dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen, atau penumpukan asam berlebih dalam darah bayi. Efek ini dapat mengancam jiwa dan memerlukan perawatan segera. Dalam kasus yang ringan hingga sedang, bayi dapat pulih sepenuhnya. Namun, pada kasus yang parah, asfiksia neonatorum dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan organ tubuh bayi.

Penyebab Asfiksia Neonatorum pada Bayi Newborn

Berbagai faktor dapat menyebabkan asfiksia lahir. Kondisi ini dapat berhubungan dengan:

  • Prolaps tali pusat. Komplikasi kelahiran ini terjadi ketika tali pusat meninggalkan serviks sebelum bayi lahir.
  • Sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini terjadi ketika bayi menghirup campuran cairan ketuban dan mekonium, yaitu kotoran pertama mereka.
  • Kelahiran prematur. Jika bayi lahir sebelum 37 minggu, paru-paru mereka mungkin belum sepenuhnya berkembang. Selain itu bayi mungkin tidak dapat bernapas dengan benar.
  • Emboli cairan ketuban. Meskipun jarak terjadi, komplikasi ini sangat serius. Karena cairan ketuban memasuki aliran darah ibu hamil dan menyebabkan reaksi alergi.
  • Ruptur uteri. Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara robekan di dinding otot rahim dan asfiksia saat lahir.
  • Plasenta terpisah dari rahim. Pemisahan ini dapat terjadi sebelum kelahiran.
  • Infeksi selama persalinan
  • Persalinan berlangsung lama dan sulit.
  • Tekanan darah tinggi atau rendah pada kehamilan.
  • Anemia. Pada bayi dengan anemia, sel darah tidak membawa oksigen yang cukup.
  • Tidak cukup oksigen dalam darah ibu hamil.

Selain penyebab di atas, ada juga beberapa faktor risiko asfiksia neonatorum, yaitu:

  • Ibu hamil berusia antara 20 hingga 25 tahun.
  • Kelahiran kembar atau lebih.
  • Tidak menjalani perawatan prenatal rutin.
  • Berat badan lahir rendah.
  • Posisi janin yang tidak normal saat melahirkan.
  • Preeklamsia atau eklamsia.
  • Adanya riwayat lahir asfiksia pada kelahiran sebelumnya.

Penanganan Bayi dengan Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum dapat didiagnosis secara objektif dengan menggunakan skor Apgar, yaitu catatan kesehatan fisik bayi baru lahir, yang ditentukan setelah pemeriksaan kecukupan pernapasan, kerja jantung, tonus otot, warna kulit, dan refleks.

Biasanya, skor Apgar adalah 7 sampai 10. Bayi dengan skor antara 4 hingga 6 mengalami depresi sedang pada tanda-tanda vitalnya. Sementara bayi dengan skor 0 hingga 3 mengalami depresi tanda-tanda vital yang parah dan berisiko besar meninggal, kecuali jika diresusitasi secara aktif.

Jenis perawatan akan tergantung pada tingkat keparahan dan penyebab asfiksia neonatorum.  Perawatan yang perlu segera dilakukan yaitu:

  • Memberikan oksigen ekstra pada ibu hamil jika asfiksia neonatorum terjadi sebelum melahirkan.
  • Persalinan darurat atau caesar.
  • Menyedot cairan dari saluran udara dalam kasus sindrom aspirasi mekonium.
  • Menempatkan bayi baru lahir pada respirator.

Untuk kasus asfiksia neonatorum yang parah, pengobatan yang diperlukan mungkin termasuk:

  • Menempatkan bayi dalam tangki oksigen hiperbarik, yang memasok 100 persen oksigen ke bayi.
  • Menginduksi hipotermia untuk mendinginkan tubuh dan membantu mencegah kerusakan otak.
  • Memberikan obat untuk mengatur tekanan darah.
  • Dialisis untuk mendukung ginjal dan membuang kelebihan limbah dari tubuh.
  • Memberikan obat untuk membantu mengontrol kejang.
  • Memberikan nutrisi melalui intravena (IV).
  • Memasang tabung pernapasan untuk memasok oksida nitrat.
  • Melakukan tindakan bantuan hidup dengan pompa jantung dan paru-paru.
Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Elton Hotman Klarifikasi Kasus Viral Klenteng Thai Seng Hut Co di Binjai

26 Februari 2026 - 12:21 WIB

Elton Hotman Klarifikasi Kasus Viral Klenteng Thai Seng Hut Co di Binjai

Ketua Pewarta Polrestabes Medan Jenguk Istri Wartawan Sumut24 yang Dirawat di ICU

17 Februari 2026 - 12:45 WIB

Ketua Pewarta Polrestabes Medan Jenguk Istri Wartawan Sumut24 yang Dirawat di ICU

Masyarakat Kab. Serdang Berdagai Menolak Aktivitas PMI (PEKERJA MIGRAN INDONESIA) Ilegal di Wilayah Mereka.

17 Februari 2026 - 05:40 WIB

Masyarakat Kab. Serdang Berdagai Menolak Aktivitas PMI (PEKERJA MIGRAN INDONESIA) Ilegal di Wilayah Mereka.

Brimob Polda Sumut Kawal Normalisasi Sungai Garoga, Wujudkan Lingkungan Aman dan Hunian Layak

17 Februari 2026 - 03:38 WIB

Brimob Polda Sumut Kawal Normalisasi Sungai Garoga, Wujudkan Lingkungan Aman dan Hunian Layak

Lakukan Tindakan Pasti Untuk Masyarakat, Ketua Al Washliyah Medan Apresiasi Kinerja Kapolrestabes Medan

12 Februari 2026 - 15:17 WIB

Lakukan Tindakan Pasti Untuk Masyarakat, Ketua Al Washliyah Medan Apresiasi Kinerja Kapolrestabes Medan
Trending di Lifestyle